12 November 2017

Menikmati Sajian Kuliner Nasi Kucing Lauk Ceker Di Warung Angkringan Jogja Solo Kota Kendari

Pada mulanya istilah Angkringan memang berasal dari Bahasa Jawa yaitu "Angkring" yang berarti duduk santai dengan cara melipat satu kaki ke kursi. bagi orang yang berasal dari Kota Solo dan Kota Jogja, nongkrong di Warung Angkringan bukan hanya sekedar menikmati aneka sajian kuliner dengan harga murah, namun "Ngangkring" istilah lain saat nongkrong di Warung Angkringan memiliki romantisme tersendiri bagi mereka yang pernah merasakan hidup di Kota Jogja dan Kota Solo.
Warung Angkringan yang biasa di temukan di tepi jalan adalah Warung Makan dengan menu kudapan berupa Gorengan, Sate Usus, Sate Telur Puyuh, Ceker serta Kepala Ayam Goreng dengan bentuk Warung yang terbuat dari gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik berwarna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli.
Sedangkan untuk menu berat di Warung Angkringan adalah Nasi Kucing yang di era tahun 2002 di jual dengan harga Rp. 1000 saja perbungkus. meskipun saya akui, satu bungkus Nasi Kucing tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar saya. sepertinya Nasi Kucing memang di sajikan dalam porsi untuk makan kucing alias agak sedikit menurut saya. untuk urusan minuman di Warung Angkringan biasanya ada Kopi, Susu, Teh Panas. namun minuman yang rasanya harus dan wajib ada di Warung Angkringan adalah Teh Jahe yang merupakan Minuman pamungkas di Warung Angkringan.
Jika menilik sejarah Warung Angkringan, adalah merupakan simbol perjuangan menaklukan kemiskinan pada era lama. beberapa sumber menyebutkan Warung Angkringan di Kota Jogja dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an.

Cawas adalah nama daerah termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke Kota Jogja dan mulai merintis usaha Warung Angkringan.
Berbagai kalangan pendahulu menyebutkan bahwasanya Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Kota Jogja. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Kota Jogja seperti Kota Solo dan sekitarnya.
Warung Angkringan di Jaman Sekarang (Jaman Now) memang sudah mengalami berbagai macam modifikasi dan penambahan fasilitas seperti Free Wifi dan juga area lesehan di sekitar Warung Angkringan. sejarah mencatat bahwa pada era lama, Angkringan di jajakan dengan menggunakan pikulan oleh Mbah Pairo sebagai pelopornya. bertempat di sekitar Stasiun Tugu Jogjakarta Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. dan kemudian di Kota Solo teriakan itu berubah menjadi sebutan HIK untuk Warung Angkringan atau singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.

Seiring dengan laju sang waktu, Warung Angkringan sebagai budaya khas Orang Jogja dan Orang Solo tidak lagi keberadaannya hanya di temui di kedua kota itu. Orang Jawa yang memang terkenal sebagai perantau sejati kemudian ikut membawa budaya Warung Angkringan di tempat mereka merantau. salah satunya di sudut Kota Kendari yang saya temui malam ini.

Terakhir "Ngangkring" sekitar tahun 2002 di Jalan Jogja-Solo depan Rumah Sakit Bethesda Kota Jogja dan malam ini, saat sedang berada di Timur Indonesia di ruas Jalan Bunggasi No. 1 Anduonohu Poasia Kota Kendari Sulawesi Tenggara secara tidak sengaja saya bisa merasakan "Ngangkring" lagi dengan ragam kuliner khas Warung Angkringan yang lezat berselera serta murah harganya. meskipun malam ini saya tidak menemukan menu minuman favorit saya saat "Ngangkring" yaitu teh nasgitel (panas, legi, kentel) namun sudah bisa sedikit mengobati kerinduan untuk "Ngangkring"

Ohya untuk lokasi Warung Angkringan yang saya temukan malam ini di Kota Kendari sudah saya submit di Google Maps dengan nama Warung Angkringan Solo Kendari.

Namun ternyata nama Warung Angkringan yang sebenarnya adalah  Nasi Bakar Angkringan Mas Blangkon Kota Kendari.

Travel Blogger Indonesia


EmoticonEmoticon